Kamis, 01 Agustus 2019

Penghuni Rumah Tua



ivonsundari.com - Hari hampir maghrib. Kami baru sampai di tempat tugas yang baru. Terlihat dari depan, rumah yang memiliki jendela kaca dengan keramik berwarna merah tersebut seperti biasa-biasa saja. Ia termasuk rumah megah di zamannya. Dua buah pohon alpukat, sebuah pohon magga, dan sebuah pohon kelapa besar seperti menjadi pagar untuk rumah tersebut. Sisa-sisa reruntuhan bangunan karena gempa yang pernah mengguncang wilayah itu masih ada di halaman rumah. Debunya berterbangan ditiup angin sore.

Pintu rumah pun dibuka. Ruangannya pun seakan menyapa kami dengan banyaknya hiasan dinding dan lukisan. Beberapa foto terpajang. Lukisan yang pertama kali terlihat adalah sketsa wajah KH. Hasyim Asyari, pendiri Nahdatul Ulama. Ternyata, sang pemilik rumah memiliki garis keturunan sampai kepada Rasulullah saw. Pak Habib, begitulah biasa kami sapa beliau sebagai bentuk penghormatan kepada keturunan ahlul bait.

Ruangan tengah pun tak kalah seramnya. Lemari-lemari tempat menyimpan pakaian berukiran kayu jati memantulkan bayangan kami melalui cerminnya. Jumlahnya pun ada lima. Memasuki ruangan kamar pun kami tak berani. Kasurnya banyak yang bertumpuk. Begitupun dengan bantalnya. Akhirnya, malam itu pun kami lalui dengan rasa mencekam yang luar biasa karena kami tak tau tentang rumah tua yang kami tempati. Hanya Allah tempat kami mengadu dalam kelelahan dan kebingungan ini. Berharap pagi segera datang.

Keesokan paginya, Bu RW datang mengunjungi kami. Ia bertanya apakah kami sudah sarapan? Kami jawab bahwa hanya anak-anak yang sudah sarapan dengan nasi malam tadi. Kami benar-benar bingung dan agak takut untuk menjelajah rumah ini. Rumah tua ini termasuk luas. Ruangannya banyak. Perabotan tua nya pun sangat banyak. Setiap malam kami mendengar bunyi tikus yang berseliweran di antara semua barang-barang tua yang tersimpan rapi di zamannya. Belum lagi ada berisik air mengalir ditemani deritan suara bambu. Untuk pergi ke dapur pun kami tak berani. Ternyata, persis di belakang rumah tua ini, ada sungai besar yang memiliki kedalaman kurang lebih 5 meter dan lebar 15  meter. Di pinggir sungai, ada pepohonan bambu yang sangat lebat.

Selama sepekan lebih, kami membeli makanan di warung makan karena kami tak tau dimana pasarnya. Kendaraan pun tak ada, hanya pinjaman dari Bu RW yang baik hati dan kasihan melihat kami. Pekan kedua, kami baru mulai memasak. Itu pun karena kami dibantu pak tukang untuk menservis penanak nasi yang kabelnya rusak dimakan tikus.

Perasaan seram dengan keadaan pun masih kami rasakan. Ternyata, desa tempat kami bertugas itu dekat banget dengan gunung kidul. Masyarakatnya pun masih lekat dengan ritual yang 'klenik' kalo kata orang jawa. Belum lagi, kami dapat cerita bahwa 3 orang si penghuni rumah terdahulu telah meninggal. Tempat tidur ketika mereka meninggal pun, persis sama dengan susunan tempat tidur yang sekarang kami pakai. Belum hilang kaget kami, ternyata tetangga yang terhitung masih di depan rumah kami adalah orang yang terkadang kumat alias kurang waras. Terkadang masuk rumah tanpa permisi, mengganggu kendaraan yang lewat, teriak sendiri tapi ia bisa berbahasa inggris loh. Malam-malam pun ia masih bisa mengetuk pintu dengan mengucapkan salam. Untuk orang baru yang tidak tahu, maka ia akan dianggap waras.

Bismillah. Kami yang tak tau cara meruqyah rumah pun, hanya sanggup melantunkan ayat-ayat Al Qur'an agar hati pun tenang. Agar terhindar juga dari orang tak waras di depan rumah.

0 komentar